Senin, 09 Juli 2012

Ibuku Seorang Wanita Karir

Hmmmm memang tidak salah menjadi wanita karir. Dizaman yang sudah maju seperti saat ini, emansipasi wanita terus terkuak dan tuntutan ekonomi didalam keluarga yang terus menerus bertambah tidak hanya menjadikan "laki-laki" atau "bapak" yang menjadi tulang punggung keluarga melainkan juga "perempuan" atau "ibu" yang dapat menjadi tulang punggung yang kedua didalam keluarga.
Tak kupungkiri, aku perempuan remaja dan kelak aku ingin bekerja seperti ibuku.
Setiap hari aku hanya berteman dengan semua fasilitas yang diberikan oleh kedua orang tuaku. Ibuku yang nyaris setiap minggu keluar kota untuk pekerjaannya, seperti melalaikan kewajiban utamanya sebagai seorang "ibu". Dari kecil memang aku sudah terbiasa ditinggal orang tua ku bekerja keluar kota apalagi oleh sang ibu, tapi dengan seiring nya waktu dan pertumbuhan fisik dan psikis ku sekarang yang sudah menjadi remaja aku merasa kalau hubunganku semakin menjauh dengan ibuku. Entah bagaimana aku dapat mengkonotasikan pikiran ku yang negatif tersebut kepada sang ibunda. Mungkin karna aku takut rasa yang terus menerus menjadi beban didalam diriku ini akan bertahan sampai suatu saat nanti ibuku full dirumah dan tidak bekerja lagi (pensiun). Aku tidak benci dengannya, aku hanya menuntut kasih sayang dan kenyamanan yang seharusnya iya berikan pada seorang remaja seperti diriku ini.
Sampai saat ini, sampai ku menginjak umur 18 tahun, aku menjadi anak yang tidak terbuka dalam berbagai masalah yang aku alami seperti pertemanan, kehidupan sampai soal percintaan. Tak pernah secuil pun aku mengutarakan segala macam kecamuk kepada ibu. Karna yang ada difikiran ku hanya ketidakpedulian sang ibu yang sudah terus menerus membuatku tidak nyaman dengan beliau.
Tapi aku bersyukur walau ibuku sering tidak ada dirumah untuk menjaga dan mengurus ku, aku masih mempunyai nenek yang menggantikan pososisi ibu dirumah dan aku pun sangat sayaaaaaaaannngggg beliau sampai-sampai aku suka mensugestikan fikiranku bahwa wanita yang paling berjasa dalam hidupku adalah nenekku, kemudian baru ibuku. Memang sepertinya aku salah jika aku mensugestikan seperti itu tapi keadaan ku ini yang membuat aku bisa berfikir seperti itu.
Aku yakin, bukan hanya aku yang bernasib seperti ini. Banyak anak-anak lain diluar sana yang ditinggal ibunya bekerja dan hanya diurus oleh mbanya (pembantu), atau neneknya seperti aku ini.
Ini semua akan menjadi goresan luka mental yang akan terus menyeruak hingga saatnya nanti aku juga akan menjadi seorang ibu. Tapi aku berjanji, insyaallah walau aku bekerja dan menjadi wanita karir aku tak ingin melewatkan setiap fase anakku kelak tumbuh dan membutuhkan kenyamanan untuk menyerukan segala macam persoalannya kepada aku, sang ibunya. Insyaallah :')

Tidak ada komentar:

Posting Komentar